Haloo bloggers Kali ini saya akan
menulis di blog saya tentang menjadi dewasa di surabaya. Masih dengan tugas
yang sama kalau yang tulisan sebelumnya tentang hobiku sekarang tengtang
menjadi dewasa di surabaya. Mungkin aku perkenalan lagi aja, perkenalkan namaku
izmi hajar arafah. Aku merupakan orang surabaya karena ayah ku orang jombang
tapi besar dan menetap di surabaya sedangkan ibuku orang asli surabaya. Jadi
aku lahir dan besar di surabaya. Surabaya merupakan kota terbesar kedua setelah
jakarta dan merupakan ibu kota provinsi jawa timur. Surabaya juga termasuk
sebagai kota metropolitan yang mana dan termasuk kota yang pertumbuhan
ekonominya sangat pesat. Surabaya tentunya juga merupakan kota dimana banyak
sekali kenangan dari aku mulai kecil hingga berkuliah di universitas airlangga.
Surabaya menjadi tempat aku tumbuh dewasa hingga sekarang. Banyak faktor yang
membuatku menjadi dewasa di kota kelahiranku ini yaitu surabaya. Orang - orang
surabaya terkenal dengan orang yang berani hingga tak heran jika banyak orang
yang takut sama orang surabaya karena sering berkata kasar dan suaranya keras.
Dibalik itu semua sebenarnya orang surabaya merupakan orang yang apa adanya
yaitu orang yang jika marah dia akan berkata kasar, jika jengkel dia akan
meluapkan emosinya ke orang yang membuat dia jengkel dan marah tanpa ditutup -
tutupi. Sehabis dia marah ke orang itu masalah sudah beres dan besok kembali
seperti biasa tanpa ada rasa dendam. Arek - arek surabaya juga dikenal dengan
berani yaitu berani mengakui kesalahan dan berani maju jika dia benar, walaupun
begitu tetap hormat kepada yang lebih tua. Adat seperti itulah yang akhirnya
membantuku menjadi dewasa seperti ini.
Hidup di kota metropolitan di Surabaya
tentu tidak menjamin seseorang akan menjadi dewasa karena ketersediaan semuanya
dapat membuat orang tidak tumbuh menjadi dewasa. Menjadi dewasa bukanlah hanya
sekedar umur tetapi perilaku seseorang dapat menandakan apakah seseorang itu
sudah dewasa atau belum. Jika ditanya apakah menjadi dewasa di Surabaya susah
atau tidak tentu jawabannya tidak karena kita harus sudah bisa membedakan yang
mana jalan yang harus kita lalui dan mana yang
tidak, serta tahu kapan kita harus bersenang – senang kapan kita serius,
dan dapat menerima kenyataan yang tidak adil. Sedikit cerita bagaimana menjadi
dewasa di Surabaya yaitu karena suatu keadaanlah yang membuat saya menjadi
dewasa. Hidup di kota Surabaya tentu banyak sekali kebutuhan dan pengeluaran
tetapi karena suatu keadaan yang membuat saya harus lebih sabar dan mengurangi
biaya pengeluaran sebagai contoh saat saya sekolah menengah pertama, saya
bersekolah di salah satu smp bergengsi di Surabaya yang membuat lingkungan di
sekitar saya adalah orang berkecukupan tentu itu tidak mudah karena saya masih
memiliki 4 saudara yang mana semuanya masih bersekolah, ada yang smp, sma,
kuliah dan sd. Karena sebuah keadaan itulah yang membuat saya harus memilah dan
memprioritaskan sesuatu. karena itulah saat smp saya belajar untuk menjadi
lebih dewasa dari sebelumnya. Tidak hanya pada saat smp, pada sma disitulah
titik dimana saya dipaksa untuk menjadi lebih dewasa lagi karena saya harus
merelakan salah satu orang tua saya yaitu ibu dan membuat saya harus
mengikhlaskan itu. semenjak itu saya harus merubah pola pikir saya yaitu dari
yang bergantung seperti membersihkan rumah, masak, mencuci baju, mengatur
keuangan, mengatur waktu, menjaga kerukunan dengan saudara dan banyak lagi pola
pikir yang harus saya rubah. Yang paling penting adalah mengatur waktu dimana
kalau dulu pulang sekolah, makan, ngerjakan tugas, tidur dan kembali berangkat
lagi ke sekolah, jalan – jalan bareng teman, ngerjakan tugas di rumah teman,
tapi sekarang harus mengurangi jalan – jalan bareng teman, ngerjakan tugas di
rumah teman ataupun mengurangi waktu di luar rumah karena banyak sekali yang
harus dilakukan di rumah, seperti membersihkan rumah dulu, mencuci baju sendiri
dan lain sebagainya. Yang paling sulit yaitu mengolah keuangan karena kalau
dulu mau jajan ataupun keluar rumah tinggal minta ibu sekarang harus mengolah
uang yang bagaimanapun harus cukup untuk makan, keperluan kuliah hingga ayah
pulang kerja ( kerja diluar kota ). Karena di Surabaya banyak sekali
gangguannya seperti ajakan untuk jalan – jalan ke mall, nonton konser,
ngerjakan tugas di café, banyak discountnya yang membuat kita harus bisa membedakan
mana yang keperluan yang didahulukan terlebih dahulu. Tentu itu tidak mudah
tetapi keadaanlah yang memaksa kita untuk menjadi lebih dewasa lagi. Mungkin itu
sedikit pengalamanku bagaimana kita harus menjadi dewasa.